TEKNIK PENANGANAN INDUK IKAN BANDENG
(Chanos chanos)
DI PT ESA PUTLii PRAKARSA UTAMA BARRU
Laporan
Praktek Kerja Industri
(PRAKERIN)
Oleh :
ANDI NURDIANSA
JURUSAN AGRIBISNIS
PERIKANAN
SEKOLAH MENENGAH
KEJURUAN NEGERI 3
ENREKANG
2012
TEKNIK PENANGANAN INDUK IKAN BANDENG
(Chanos
chanos)
DI PT ESA PUTLii PRAKARSA UTAMA BARRU
Laporan
Praktek Kerja Industri
(PRAKERIN)
Oleh :
Andi Nurdiansa
Menyetujui :
Pembimbing I General Manager Pembimbing II
Ir. Joko Sarwono Syaripuddin
Tang Abdul
Rahman
Mengetahui :
Ketua
Jurusan Kepala
Sekolah
Rosmayarni S.Pi Hasdar
S.Pd M.Pd.
NIP. 10780914 201001 2 013...... NIP.19730909
200003 1 007
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat
rahmat dan hidayahNya sehinggah siswa/siswi program keahlian Agribisinis Perikanan (AP) SMKN 3 Enrekang
dapat menyelesaikan praktek kerja industri (PRAKERIN) dengan sukses, dan akhirnya penulis dapat
menyelesaikan laporan hasil Praktek Kerja Lapangan dengan
judul “Pemeliharaan Induk Bandeng di
PT ESAPUTLii PRAKARSA UTAMA”.
Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan dan dukungan
kepada:
1. Hasdar S.Pd M.Pd
2. Rosmayarni S.Pi selaku ketua jurusan Agribisnis Perikanan SMKN 3 Enrekang
3. Agussalim S.Pd selaku guru pembimbing
4. Ir. Joko Sarwono selaku pembimbing divisi nener
5. Abdul Rahman selaku pembimbing I divisi benur
6. Deny Hermasyah selaku pembimbing II divisi benur
7.
Kedua orang tua dan
keluarga serta semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan proposal ini
yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis
menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam laporan ini. Oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna
penyusunan laporan yang lebih baik di kemudian hari. Besar harapan
agar laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan
bagi masyarakat umumnya dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam
bidang perikanan.
Barru,
September 2012
Penulis
ANDI.NURDIANSA
DAFTAR ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR ..................................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................................. ii
DAFTAR
TABEL .......................................................................................................................... iv
DAFTAR
GAMBAR ..................................................................................................................... v
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................................... vi
I.
PENDAHULUAN............................................................................................1
1.1 Latar
Belakang....................................................................................................1
1.2 Tujuan dan
Kegunaan.....................................................................................2
1.3 Waktu dan
Tempat.........................................................................................3
II.
TINJAUAN
PUSTAKA.....................................................................................4
2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan
Bandeng..............................................................5
2.2 Habitat Ikan Bandeng..........................................................................................6
2.3
Cara
Makan Ikan Bandeng (Chanos chanos).......................................................7
2.4
Reproduksi
Ikan Bandeng (Chanos chanos)........................................................8
2.5 Kualitas
Air...........................................................................................................9
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN...................................................................................10
3.1
Hasil
Praktek Kerja Industri..................................................................................11
3.1.1
Sarana................................................................................................12
3.1.2
Prasarana...........................................................................................13
3.2
Pembahasan
Hasil Praktek Kerja Industri.............................................................14
3.2.1
Alat
dan Bahan....................................................................................15
3.2.2
Persiapan bak pemeliharaan ..............................................................16
3.2.3
Pengisian
air media.............................................................................17
3.2.4
Penebaran
Telur..................................................................................18
3.2.5
Pengaturan Aerasi...............................................................................19
3.2.6
Penanganan selama pemeliharaan Induk...........................................20
1. Pemberian
pakan..........................................................................21
2. Sirkulasi/pergantian air................................................................22
3. Pemanenan
larva..........................................................................23
4. Penyortiran...................................................................................24
5. Penyiponan...................................................................................25
IV.
KESIMPULAN DAN SARAN.....................................................................................26
4.1 Kesimpulan............................................................................................................27
4.1 Kesimpulan............................................................................................................27
4.2 Saran.....................................................................................................................28
V. DAFTAR
DAFTAR
GAMBAR
Gambar 3.1 Bak
Induk............................................................................................................
Gmabar 3.2
induk..................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Induk Bandeng merupakan salah satu
sarana produksi yang utama dalam usaha budidaya benih bandeng(nener) di suatu perusahaan. Perkembangan Teknologi
budidaya bandeng di suatu
perusahaan dirasakan sangat lambat dibandingkan dengan usaha budidaya
udang. Faktor ketersediaan benih merupakan salah satu kendala dalam menigkatkan
teknologi budidaya bandeng. Selama ini produksi Induk Bandeng dari alam belum mampu untuk
mencukupi kebutuhan budidaya bandeng yang terus berkembang, oleh karena itu
peranan usaha pembenihan bandeng dalam upaya untuk mengatasi masalah kekurangan
nener tersebut menjadi sangat penting. Tanpa mengabaikan arti penting dalam
pelestarian alam, pengembangan wilayah, penyediian dukungan terhadap
pembangunan perikanan khususnya dan pembangunan nasional umumnya, kegiatan
pembeSnihan bandeng di
hatchery harus diarahkan untuk tidak menjadi penyaing bagi kegiatan penangkapan
nener di alam. Diharapkan produksi benih nener di hatchery diarahkan untuk
mengimbangi selisih antara permintaan yang terus meningkat dan pasok
penangkapan di alam yang diduga akan menurun.
1.2
Tujuan
dan Kegunaan
Tujuan Umum
·
Mendapatkan
pengalaman kerja dalam mengelolah pembenihan, dengan berbagai masalah serta pemencahan/penanganannya.
·
Memantapkan dan
meningkatkan sikap tanggung jawab dan disiplin yang tinggi.
Tujuan
Khusus
·
Dapat menambah
pengalaman yang riil di lapangan.
·
Mengaplikasikan
ilmu pengetahuan dan keterampilan.
·
Dapat mengetahui
teknik persiapan bak dan peralatan penunjang yang di gunakan dalam kegiatan
pembenihan.
·
Mengetahui teknik
pemeliharaan
induk bandeng
·
Dapat mengetahui
jenis dan teknik kultur pakan alami pada pembenihan bandeng.
·
Pemenuhan
persyaratan akademik
Kegunaan
Karya tulis ini dapat dijadikan sebagai bahan
masukan dan informasi sekaligus pedoman kepada semua pihak khususnya penulis
mengenai penanganan dan pemeliharaan induk bandeng pada
pembenihan dalam rangkah pengembangan usaha ikan bandeng di Indonesia.
1.3
Waktu dan Tempat
kegiatan Praktek
Kerja Industri (PRAKERIN) program keahlian Agribisnis Perikanan (AP), di
lakukan selama 4 bulan, yang dimulai pada tanggal 11 Juni 2012 sampai dengan 11
Oktober 2012 yang bertempat di PT.
ESAPUTLiiPRAKARSA UTAMA (Benur Kita) Barru,lingkungan Jalang’E, kelurahan
Mallawa, kecamatan Mallusetasi, kabupaten Barru, provinsi Sulawesi Selatan.
BAB II
TINJUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi
Ikan Bandeng
Nama ilmiah ikan
bandeng menurut Soesono(1988) adalah
:Chanos chanos, klasifikasi secara lengkap adalah sebagai berikut
Kingdom :
Animalia
Phylum
: Chordata
Sub phylum :
Vertebrata
Class
:
Pisces
Sub
class
: Teleostei
Ordo :
Malacopterygii
Family :
Chanidae
Genus :
Chanos
Species
: Chanos chanos Forskvg
2.2 Deskripsi Ikan Bandeng (Chanos chanos)
Ikan bandeng
memiliki nama lain yaitu Milkfish. Ikan ini memiliki tubuh
langsing dengan sirip ekornya bercabang sehingga mampu berenang dengan cepat. Warna
tubuhnya putih keperak – perakan. mulut tidak bergerigi sehingga menyukai
makanan ganggang biru yang tumbuh di dasar perairan (herbivora).
2.3 Morfologi Ikan Bandeng (Chanos chanos)
Ikan bandeng
dikenal sebagai ikan petualang yang suka merantau. Ikan bandeng ini mempunyai
bentuk tubuh langsing mirip terpedo, dengan moncong agak runcing, ekor
bercabang dan sisiknya halus. Warnanya putih gemerlapan seperti perak pada
tubuh bagian bawah dan agak gelap pada punggungnya (Mudjiman, 1998).
Ciri umum ikan
bandeng adalah tubuh memanjang agak gepeng, mata tertutup lapisan lemak
(adipase eyelid), pangkal sirip punggung dan dubur tertutup sisik, tipe sisik
cycloid lunak, warna hitam kehijauan dan keperakan bagian sisi, terdapat sisik
tambahan yang besar pada sirip dada dan sirip perut. Bandeng jantan memiliki
ciri-ciri warna sisik tubuh cerah dan mengkilap keperakan serta memiliki dua
lubang kecil di bagian anus yang tampak jelas pada jantan dewasa (Hadie, 2000).
2.4 Habitat Ikan Bandeng (Chanos chanos)
Bandeng banyak
dikenal orang sebagai ikan air tawar. Habitat asli ikan bandeng sebenarnya di
laut, tetapi ikan ini dapat hidup di air tawar maupun air payau.
Ikan bandeng
hidup di Samudra Hindia dan menyeberanginya sampai Samudra Pasifik, mereka
cenderung bergerombol di sekitar pesisir dan pulau-pulau dengan koral. Ikan
yang muda dan baru menetas hidup di laut untuk 2 - 3 minggu, lalu berpindah ke
rawa-rawa bakau, daerah payau, dan kadangkala danau-danau. Bandeng baru kembali
ke laut kalau sudah dewasa dan bisa berkembang biak (Anonim, 2009).
2.5 Cara Makan Ikan Bandeng (Chanos chanos)
Bandeng
termasuk herbivora (pemakan tumbuh-tumbuhan). Ikan ini memakan klekap, yang
tumbuh di pelataran kolam. Bila sudah terlepas dari permukaan tanah, klekap ini
sering disebut sebagai tahi air. Pakan bandeng terutama terdiri dari plankton
(Chlorophyceae dan Diatomae), lumut dasar (Cyanophyceae), dan pucuk tanaman
ganggang (Nanas dan Ruppia). Tumbuh-tumbuhan yang berbentuk benang dan yang
lebih kasar lagi akan lebih mudah dimakan oleh ikan bandeng bila mulai membusuk
(Liviawaty, 1991).
2.6 Reproduksi Ikan
Bandeng (Chanos chanos)
Setelah induk
ikan bandeng telah matang gonad. Tahap selanjutnya yaitu pemijahan induk ikan
bandeng. Pemijahan ikan bandeng secara alami terjadi didaerah pantai yang
jernih dengan kedalaman 40-50 meter, dan ombak yang sedikit beriak karena sifat
telurnya yang melayang (Ahmad, 1998).
Pemijahan
bandeng berlangsung parsial, yaitu telur matang dikeluarkan sedangkan yang
belum matang terus berkembang didalam tubuh untuk pemijahan berikutnya. Dalam
sehari 1 ekor induk bandeng dapat memijah lebih dari satu kali.. Jumlah telur yang
dihasilkan dalam satu kali pemijahan berkisar antara 300.000-1.000.000 butir
telur (Murtidjo, 1989).
Menurut Mudjiman (1983), pemijahan alami berlangsung dalam
kelompok-kelompok kecil yang tersebar disekitar gosong karang atau perairan
yang jernih dan dangkal disekitar pulau pada bulan maret, mei, dan September
sampai januari. Bandeng memijah pada tengah
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Praktek Kerja Industri
3.1.1 Sarana
1. Sarana Pokok
Fasilitas pokok yang dimanfaatkan secara langsung untuk kegiatan produksi
adalah bak penampuga air tawar dan air laut, bak pemeliharaan larva, bak
pemeliharaan induk dan inkubasi telur serta bak pakan alami.
Ø Bak Penampugan Air Tawar dan Air Laut.
Bak penampugan air (reservoir) dibagun pada ketinggian sedemikian rupa
sehinga air dapat didistribusikan secara gravitasi ke dalam bak-bak dan sarana
lainnya yg memerlukan air (tawar,laut,bersih).
Ø Bak Pemeliharaan Induk
Bak pemeliharaan induk berbentuk empat persegi panjang atau bulat degan
kedalaman lebih dari 1 (satu) yang sudut-sudutnya dibuat lengkung dan di
letakkan di luar ruangan dan langsung menerima cahaya tanpa dinding dan di
tutup degan jaring agar induk tidak melompat keluar
Ø Bak Pemeliharaan Telur
Bak perawatan telur terbuat dari akuarium kaca atau serat kaca degandaya
tampung lebih dari 2.000.000 butir telur pada kepadata 10.000 butir per liter
Ø Bak Pemeliharaan Larva
Bakpemeliharaanlarva yang berpungsi juga sebagai bak penetasan telur dapat
terbuat dari serat kaca maupun konsturksi beton,sebaikx berwarna aga
gelap,berukuran(4x5x1,5) m3 degan volume 6 dan 13 ton berbentuk bujur sangkar
dan persegi panjang dan diletakkan di dalam bagunan tanpa atap dan cahaya
matahari langsung tanpa dinding balik.
2. persiapan bak
Bak yang digunakan untuk pemeliharaan induk
terserah bervolume berapa yang penting dlam satu induk ikan membutuhkan ruang 1
meter kubik. Bak yang digunakan hrus benar bersih dari kotoran supaya ikan
tidak terkena penyakit
Pengerigan dilakukan untuk membunuh siklus hidup
dalam bak
3. sirkulasi/ pergantian air
Air dalam bak pemeliharaan induk harus benar2
netral dan pergantian air dilakukan selama 24 jam. Dan penyiponan bak dilakukan
1 bulan 1x atau pembersihan dilakukan
sebaik jga bak induk kelihatan kotor.
3.pemberian pakan
Pakan diberikan 2 kali dalam sehari yaitu pagi dan
siang hari.
Pakan diberikan sesuai

Gambar 3.1 Bak induk
Pembenihan
Ikan Bandeng
Pertama,
pemeliharaan induk ikan bandeng, dilakukan dengan cara mempersiapkan wadah,
membuat 2 buah saluran pada setiap bak, dilakukan pemeriksaan jenis kelamin dan
kematangan telur, pemberian pakan 2 kali sehari, serta memperhatikan
pengelolaan airnya. Kedua, Pematangan induk secara hormonal dilakukan dengan
cara merangsang perkembangan gonad dengan manipulasi lingkungan dan penanganan
hormonal. Ketiga, proses seleksi dan sampling kematangan gonad melalui metode
kanulasi dan stripping, menurunkan volume air bak, dipindahkan ke bak bervolume
1.000-1.500 liter, kemudian dilakukan pembiusan induk.
Keempat, pemijahan induk terjadi secara spasial. Telah terjadinya pemijahan ditandai dengan induk jantan yang selalu mengikuti betina, selanjutnya induk jantan mengeluarkan sperma dan induk betina mengeluarkan telur. Kelima, penetasan telur pada bak bersih. Telur menetas sekitar 24 jam setelah penebaran dalam bak penetasan telur. Keenam, pemeliharaan larva dilakukan dengan cara memberikan pakan pertama pada larva setelah berumur 2 hari, setelah itu pakan yang diberikan disesuaikan dengan usia larva.
Keempat, pemijahan induk terjadi secara spasial. Telah terjadinya pemijahan ditandai dengan induk jantan yang selalu mengikuti betina, selanjutnya induk jantan mengeluarkan sperma dan induk betina mengeluarkan telur. Kelima, penetasan telur pada bak bersih. Telur menetas sekitar 24 jam setelah penebaran dalam bak penetasan telur. Keenam, pemeliharaan larva dilakukan dengan cara memberikan pakan pertama pada larva setelah berumur 2 hari, setelah itu pakan yang diberikan disesuaikan dengan usia larva.
Pemeliharaan
Induk
Pertama
siapkan wadah pemeliharaan yaitu 2 buah bak beton dengan kapasitas 200
ton/baknya. Kedalaman 3-4 m dan berdiameter 10 m.
Setiap bak
induk dibuat 2 buah saluran pembuangan pada dasar dan sisi atas bak dengan
ukuran 4-6 inchi.
Selama
induk bandeng dipelihara dalam bak pemeliharaan dilakukan pemeriksaan jenis
kelamin dan kematangan telur.
Jenis
pakan yang diberikan berupa pellet terapung sebanyak 2 - 3 % dari berat tubuh induk per hari.
Frekuensi
pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari.
Perlu diperhatikan
pula pengelolaan airnya.Penggantian air sebanyak 200% per hari.
Pematangan
Induk Secara Hormonal
Perkembangan
gonad induk dapat dirangsang melalui dua cara yaitu manipulasi lingkungan dan
penanganan hormonal.
Hormon
yang digunakan adalah LHRH-a.
Hormon
tersebut diimplantasikan ke dalam tubuh induk dalam bentuk pellet berhormon
dengan dosis 200 mikrogram per ekor induk.
Implantasi
dilakukan diatas linea lateralis dan di bawah sirip punggung.
lkan
dipegang dengan posisi punggung sedikit di atas permukaan air lalu salah satu
sisik bagian kanan dibuang dengan menggunakan ujung scalpel yang tumpul lalu
daerah tersebut ditoreh sedalam ± 1 cm.
Posisi
alat penyuntik saat hormon saat penyuntikan diusahakan 450 terhadap punggung ke
arah depan.
Alat penyuntik
berisi pellet berhormon dimasukkan sedalam ± 2 cm kemudian hormon dilepas dan
ditarik pelan-pelan.
Implantasi
dilakukan satu bulan sekali hingga induk memijah.
Seleksi
dan Sampling Kematangan Gonad
Pemeriksaan
jenis kelamin dan kematangan gonad dilakukan dengan metode kanulasi dan
stripping.
Sampling
kematangan induk diawali dengan menurunkan volume air bak 20 - 30 cm dari dasar
bak.
Induk
kemudian ditangkap dengan menggunakan jaring atau serokan dan dipindahkan ke
dalam bak penampungan yang bervolume 1.000 -1.500 liter.
Setelah
induk semua terkumpul di bak penampungan, 2 - 4 ekor induk dipindahkan ke bak
pembiusan yang bervolume 500 liter dan diisi air laut sekitar 1 / 3 volume bak.
Induk
dibius dengan menggunakan phenoxy etanol 200 - 300 pp.
Pemijahan
Induk
Setelah
selesai sampling dan seleksi induk dipindahkan kembali ke bak pemeliharaan.
Pemijahan
terjadi secara parsial dimana telur yang dikeluarkan merupakan telur yang sudah
matang, sedangkan yang belum matang terus berkembang di dalam tubuh ikan untuk
pemijahan berikutnya.
Telah
terjadinya pemijahan ditandai dengan tingkah laku induk jantan yang selalu
mengikuti betina.
Selanjutnya
induk jantan akan mengeluarkan sperma dan induk betina akan mengeluarkan telur.
Penetasan
Telur
Wadah yang
digunakan untuk penetasan adalah bak berbentuk empat persegi panjang berukuran
6,2 x 3 x 1,5 m.
Sebelum
bak digunakan dibersihkan dahulu dan segala kotoran.
Bak
dibersihkan dengan melarutkan kaporit 100 ppm dalam ember 10 liter setelah itu
dibiarkan selama 24 jam.
Kemudian
hari berikutnya bak dibilas dengan air tawar dan dikeringkan selama 1 - 3 hari.
Pengisian
air dengan volume mencapai 7,2 liter.
Telur akan
menetas kurang lebih 24 jam setelah penebaran dalam bak penetasan
telur. Pada suhu 28 - 30 0C dengan salinitas 32 ppt.
a. Suhu
Salah satu indikator untuk mengetahui kualitas air adalah suhu. Suhu air sangat berkaitan erat dengan konsentrasi jenuh oksigen terlarut dalam air dan laju konsumsi oksigen hewan air. Suhu air optimal bagi ikan bandeng terletak antara 26 C 33 C. Pada suhu 18 C 25 C, ikan bandeng masih dapat bertahan hidup, tetapi nafsu makannya mulai menurun. Suhu air 12 C 18 C mulai berbahaya bagi ikan, sedangkan pada suhu air di bawah 12 C ikan bandeng mati
kedinginan (Ahmad, 1998).
b. Salinitas
Ikan bandeng mampu menyesuaikan diri terhadap salinitas air, sehingga dapat hidup di air tawar (salinitas antara 0 5 ppt) maupun air asin (salinitas > 30 ppt). Namun karena ikan bandeng dibudidayakan untuk tujuan komersial maka rentan salinitas optimal perlu dipertahankan. Pada rentan salinitas optimal (20 25 ppt), ganggang-ganggang dasar (klekap) yang menjadi makanan alami bagi ikan bandeng dapat tumbuh dengan baik, sehingga dapat mengurangi biaya pembelian pakan (Alie, 1988)
c. pH
Mutu air tambak juga harus alkalis (pH berkisar antara 7,5 8,7). pH merupakan indikator baik buruknya lingkungan air, sehingga angka pH ini dapat digunakan untuk memperoleh gambaran tentang daya produksi potensial air itu akan mineral, yang menjadi pokok pangkal segala macam hasil perairan itu. Air yang agak basa misalnya, dapat lebih cepat mendorong proses pembongkaran bahan organik menjadi garam mineral, yang akan diserap sebagai bahan makanan oleh tumbuh-tumbuhan renik di dalam air, yang merupakan makanan alami bagi ikan bandeng. Sebaliknya bila air itu asam (pH air rendah), maka daya produksi
potensialnya tidak begitu baik (Taufik, 1999).
Mutu air tambak juga harus alkalis (pH berkisar antara 7,5 8,7). pH merupakan indikator baik buruknya lingkungan air, sehingga angka pH ini dapat digunakan untuk memperoleh gambaran tentang daya produksi potensial air itu akan mineral, yang menjadi pokok pangkal segala macam hasil perairan itu. Air yang agak basa misalnya, dapat lebih cepat mendorong proses pembongkaran bahan organik menjadi garam mineral, yang akan diserap sebagai bahan makanan oleh tumbuh-tumbuhan renik di dalam air, yang merupakan makanan alami bagi ikan bandeng. Sebaliknya bila air itu asam (pH air rendah), maka daya produksi
potensialnya tidak begitu baik (Taufik, 1999).
2.6 Hama dan
Penyakit Pada Ikan Bandeng (Chanos chanos)
Menurut
Ahmad (1999), penyakit penting yang sering menyerang ikan bandeng adalah :
1.
Pembusukan sirip, disebabkan oleh bakteri.
Gejalanya sirip membusuk dari bagian tepi.
2.
Vibriosis, disebabkan oleh bakteri Vibriosis sp.
Gejalanya nafsu makan turun, pembusukan sirip, dan bagian
perut bengkak oleh cairan.
3.
Penyakit oleh protozoa. Gejalanya nafsu makan
hilang, mata buta, sisik terkelupas, insang rusak, banyakberlendir.
4.
Penyakit oleh cacing renik. Sering disebabkan
oleh cacing Diploctanum yang menyerang bagian insang sehingga menjadi pucat dan
berlendir.
Penyakit
dari bakteri, parasit dan jamur disebabkan lingkungan yang buruk, dan penurunan
daya tahan tubuh ikan. Penurunan kualitas lingkungan disebabkan oleh tingginya
timbunan bahan organik dan pencemaran lingkungan dari aliran sungai. Bahan
organik dan kotoran akan membusuk dan manghasilkan gas-gas yang berbahaya.
Ketahanan tubuh ikan ditentukan konsumsi nutrisinya (Anonim, 2001).
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan kegiatan praktek kerja
industri (PRAKERIN) yg telahdilakukan di PT.ESAPUTLiiPRAKARSA UTAMA (Benur
Kita) Barru,khususnya pemeliharaan Induk Bandeng hinggah pemanenan telur dapat
disimpulkan bahwa:
1.
Kegiatan yg berperan penting dalam pemeliharaan induk
bandeng
·
Persiapan alat dan bahan
·
Pegisian air media
·
Pemanenan telur
·
Penyiponan
·
Penaganan selama pemeliharaan
·
Pemberian pakan buatan
·
Sirkulasi
2. Dalam pemanenan telur
harus di lakukan degan hati-hati agar telur tidak rusak.
3. Setelah 24 jam telur telah
menetas menjadi larva.
4.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai
berikut:
1.
Pada devisi induk bandeng sudah ada sarana yang rusak dan
tidak layak pakai,sebaikx diganti untuk memperlancar produksi induk bandeng
2.
Bak induk yang mulai bocor, sebaikx diperbaiki
sebelummegalami kehancuran yang parh
3.
Penentuan waktu masuk dan pulang kerja harus ditetapkan
degan jelas
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar